Jisatsu di Jepang
Seperti yang Nippontizen ketahui, Jepang merupakan negara impian untuk para pecinta kebudayaan Jepang. Tetapi, tidak semua yang ada di Jepang itu indah. Jepang juga memiliki sisi yang tidak ingin mereka tunjukan ke banyak orang, salah satunya adalah tingginya tingkat bunuh diri.
![]() |
| Credit: Reto Stöckli, NASA Earth Observatory, Public domain, via Wikimedia Commons |
Kilas balik
Bunuh diri atau moderen ini disebut dengan Jisatsu (自殺) merupakan fenomena yang sudah lama ada di Jepang. Pada zaman dulu, disebut dengan ritual Seppuku (切腹). Ritual ini sesuai namanya dilakukan dengan cara merobek perut. ritual ini dilakukan oleh para samurai untuk menebus kesalahan, mendapatkan kembali kehormatan yang hilang, atau menghindari penangkapan yang memalukan.
![]() |
| Jakob Lazzaro, CC BY 2.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/2.0>, via Wikimedia Commons |
Motif
Berbeda dengan zaman dulu, pada moderen ini, berbagai macam motif mendasari seseorang untuk melakukan bunuh diri. Menurut Japan Economic Newswire, tahun 2007, National Police Agency (NPA) melakukan revisi kategori alasan bunuh diri terbagi menjadi 50 alasan, dengan tiga alasan terdaftar untuk setiap korban bunuh diri.
Menurut data the National Police Agency pada 2020, motif utama, sebesar 49%, seseorang melakukan bunuh diri karena masalah kesehatan. Masalah kesehatan ini mencangkup dengan kesehatan secara fisik dan juga kesehatan mental (seperti depresi).
Motif bunuh diri kedua, sebesar 17%, yang paling umum terdaftar adalah masalah keuangan (seperti terlilit utang) atau kemiskinan.
Motif ketiga, sebesar 15%, merupakan “masalah rumah tangga” seperti perselisihan dalam keluarga.
Motif keempat, sebesar 10%, merupakan masalah yang terjadi pada “lingkungan kerja”.
Dan dua kategori utama yang terakhir adalah masalah dalam “hubungan”, sebesar 4%, seperti “patah hati”, dan masalah “sekolah”, sebesar 2%, seperti “tidak berhasil mencapai hasil yang di tuju”. lalu untuk motif lainnya sebesar 10%.
![]() |
| MaedaAkihiko, CC BY-SA 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0>, via Wikimedia Commons |
Spot bunuh diri
Menurut Justin McCurry tahun 2008, lokasi tempat bunuh diri yang terkenal terletak di Aokigahara yang merupakan kawasan hutan di kaki gunung Fuji. Menurut catatan polisi pada tahun 2010 menunjukan bahwa di hutan tersebut terdapat 247 upaya bunuh diri dan 57 di antaranya berakibat fatal.
Tempat berikutnya adalah rel kereta api. Menurut Howard W. France, tahun 2000, rel kereta api jalur Chuo Rapid menjadi tempat yang sering dijadikan para korban untuk melakukan bunuh diri.
![]() |
| source: nippon.com |
Jadi menurut nippontizen bagaimana tentang fenomena ini? Menurutku pribadi ini hal yang luar biasa mengkawatirkan ya. Tidak hanya Jepang tetapi di seluruh dunia, aku berharap hal ini bisa dapat berkurang. Kalau nippontizen ada yang melihat teman yang mengalami depresi dan ingin bunuh diri, sangat disarankan untuk segera ajak ke psikolog ataupun psikiater agar tidak terjadi hal yang tidak kita inginkan.
Layanan konseling psikologi SEJIWA hubungi 119 (extensi 8)
atau
Datangi Puskesmas / Rumah Sakit terdekat
-----
https://www.nytimes.com/2000/06/06/world/kunitachi-city-journal-japanese-trains-try-to-shed-a-gruesome-appeal.html?sec=health&scp=1&sq=chuo+japan+suicide&st=cse
https://www.theguardian.com/world/2008/jun/19/japan1
https://mai-ko.com/travel/japanese-history/samurai/harakiri-and-suppuku/
https://www.nippon.com/en/japan-data/h01283/

.jpg)


Comments
Post a Comment