Sejarah Oda Nobunaga

 Oda Nobunaga

 

Unknown artistUnknown artist, Public domain, via Wikimedia Commons

Konnichiwa nippontizen ! Kali ini aku akan membahas tokoh sejarah Jepang yang sangat terkenal, tentang seseorang yang dikenal kejam dan pendendam pada zaman negara-negara berperang atau Sengoku Jidai, yaitu Oda Nobunaga. Walaupun dikenal sebagai panglima perang yang sangat kejam dan pendendam, Oda Nobunaga memiliki ambisi untuk menyatukan Jepang.

 

Bariston, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons


Awal kehidupan Nobunaga

Oda Nobunaga adalah anak kedua dari Oda Nobuhide. Ayah Nobunaga adalah seorang minor daimyo yang keluarganya melayani Shiba Sugo. Nobuhide merupakan seorang pejuang yang sangat ahli dalam berperang, dan menghabisakan sebagian besar waktunya untuk melawan para samurai Mino dan Mikawa. Klan Oda terbagi menjadi dua kubu pada saat itu, keduanya saling bersaing untuk menguasai delapan distrik di Owari. Kubu Nobuhide yang dimana dia adalah salah satu dari tiga tetua, bermarkas di kastil Kiyosu. Dan kubu lawannya berada di utara, kastil Iwakura.

Pada tahun 1534, Nobunaga terlahir dengan nama Oda Kippoushi dan pada masa kecilnya dipanggil dengan kippo-shi. Pada masa kecil hingga remaja, Nobunaga terkenal karena perilakunya yang nakal. Hal itulah yang menjadikan Nobunaga dijuluki sebagai Owari no O-utsuke atau si bodoh dari Owari. Tetapi bersamaan dengan diperkenalkannya senjata api di Jepang, Nobunaga dikenal sebagai pecinta senjata api Tanegashima. Pada masa kecil Nobunaga juga terkenal senang bermain dengan remaja lainnya tanpa memperdulikan pangkatnya di masyarakat.

Pada tahun 1551 ayah Nobunaga, Oda Nobuhide, meninggal secara tidak terduga. Pada saat pemakaman dikatakan bahwa Nobunaga berperilaku sangat keterlaluan. Dia melempar dupa ke arah altar. Perilaku yang kurang disiplin ini membuat para pengikut Oda untuk lebih memihak Nobuyuki yang merupakan saudara laki-laki Nobunaga yang lembut dalam berkata dan sopan. Mengetahui hal tersebut, mentor Nobunaga, Hiraite Masahide merasa malu dengan perilaku Nobunaga dan akhirnya melakukan seppuku. Kematian mentor Oda Nobunaga ini, berdampak besar pada Nobunaga, sehingga dia membangun kuil untuk menghormati Masahide.

 

Nobunaga Merebut Kyoto

Menurut “Topics in Japanese Cultural History”, pada tahun 1560, Oda Nobunaga berhasil mencetak kemenangan melawan rivalnya yang lebih kuat. Pada saat perang, Oda kalah dalam jumlah pasukan sekitar sepuluh berbanding satu. Oda bisa menang karena strategi perang yang inovatif dan juga penggunaan senjata yang lebih canggih dibanding musuh. Dia adalah seorang daimyo yang serius dalam menggunakan senjata, dan menggunakan banyak pasukan bersenjata senapan api dalam kelompok bergilir.

Pada tahun 1568 Nobunaga pergi ke Ibu Kota (Kyoto), dia mendapatkan dukungan kaisar dan menetapkan kandidatnya untuk perjuangan mensukseskan shogun. Didukung dengan kekuatan militer, Nobunaga juga dapat mengendalikan bafuku (pemerintahan pada saat itu). Menurut “Topics in Japanese Cultural History”, Shogun Ashikaga terakhir, Yoshiaki merasa gugup karena kekuatan Oda yang semakin besar. Pada tahun 1573 ia melarikan diri dari Kyoto untuk mencari bantuan kepada daimyo yang menentang Oda. Namun pada saat itu, tidak ada yang menganggap serius Shogun Ashikaga, dan pada akhirnya Yoshiaki menjalani sisa hidupnya dalam ketidakjelasan. Sepanjang tahun 1570-an, Oda menggunakan ahli diplomasi untuk membuat para daimyo saling bertarung. Pada kasus seperti itu, bahkan para pemenang biasanya berada dalam kondisi yang lemah saat berhadapan dengan pasukan Oda. Sumber : Topics in Japanese Cultural History”.

 

DXR, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons

Oda menjadi manusia terkuat di Jepang

Menurut “Library of Congress”, pada tahun 1573, Oda telah mengalahkan daimyo lokal dan mengusir shogun Ashikaga. Hal ini juga mengantar apa yang disebut oleh sejarahwan sebagai periode Azuchi-Momoyama (1573-1600), dinamai berdasarkan dari kastil Nobunaga dan Hideyoshi. Setelah mengambil sebuah langkah yang besar menuju reunifikasi, kemudian Nobunaga membangun sebuah kastil dengan tujuh lantai yang dikelilingi oleh tembok batu di Azuchi di tepi danau Biwa.

Kekuatan Oda meningkat saat dia menaklukan para daimyo yang telah kalah, meruntuhkan hambatan perdagangan bebas, menarik komunitas agama dan juga pedagang untuk masuk ke struktur militernya. Oda mengamankan kendali sekitar sepertiga provinsi melalui penggunaan perang dalam skala besar. Pada saat yang bersamaan, para daimyo, baik yang telah Nobunaga taklukan maupun yang berada di luar kendalinya, membangun kastil mereka sendiri dengan penjagaan yang ketat serta memoderenisasi garnisun mereka.

Pada tahun 1574 Nobunaga menerima gelar sebagai Kuge (atau Bangsawan Istana), lalu pada tahun 1577 ia diberi gelar sebagai Udaijin (atau Menteri Kanan), gelar tersebut merupakan posisi tertinggi ketiga di istana kekaisaran.

Pada tahun 1581, setelah mengalahkan para daimyo utama dan para organisasi Buddhis kuat lainnya, Oda muncul sebagai seseorang yang paling kuat di Jepang. Sebagian besar area masih di luar kendalinya, tetapi momentum ini sangat menguntungkannya. Sumber : “Topics in Japanese Cultural History”.

 

Usaha Oda dalam menyatukan Jepang

Menurut “Samurai Archives”, pada tahun 1577, Nobunaga mengirimkan kepala jendralnya, Hideyoshi, untuk menaklukkan dua belas provinsi di Honshu Barat dalam upaya mewujudkan impian Nobunaga untuk menguasai seluruh Jepang. Pada saat itu perang merupakan peristiwa yang terjadi berlarut-larut. Tiga musuh utama Nobunaga saat itu adalah, klan Uesugi, Honganji, dan Mori.

Klan Honganji. Benteng Ishiyama Honganji terbukti tidak kalah tangguhnya dengan sebelumnya Nagashino. Pada bulan Juni 1576 Oda mengirim Harada Naomasa dengan pasukan untuk menyerang Honganji, namun upaya tersebut berakhir gagal dan hilangnya nyawa Harada. Nobunaga menanggapi hal tersebut dengan secara pribadi memimpin serangan yang berhasil mengambil beberapa kepala. Tetapi melihat Nobunaga terluka dalam pertempuran, menyadari bahwa serangan langsung ke benteng yang dijaga ketat itu memerlukan biaya tinggi. Meskipun hal itu akan berhasil, Oda Nobunaga memilih untuk mengubah strateginya. Diawali dengan mengurangi satelit Ishiyama Honganji, menghancurkan Saiga Monto dari Kii, dan melemahkan prajurit biksu, Negoroji. Klan Honganji sendiri berpegang teguh, dan menarik dukungan dari dua klan terkuat, Klan Uesugi dan Mori.

投稿者がファイル作成, Public domain, via Wikimedia Commons

Klan Uesugi. Uesugi Kenshin dan Oda Nobunaga hingga tahun 1576 memiliki hubungan kewaspadaan. Untuk sementara waktu, Kenshin bekerja sama dengan Nobunaga untuk melawan Takeda, tetapi kehilangan minat dalam aliansi mereka setelah perang Nagashino. Ada dua faktor yang mempengaruhi tingkatnya ketengangan antara kedua klan ini. Pertama, Nobunaga secara bertahap berkembang lebih dalam ke daerah Hokuriku, wilayah ini dianggap Kenshin merupakan daerah yang masuk dalam lingkup pengaruh Uesugi. Kedua, runtuhnya kastil Azuchi pada musim semi tahun 1576, dan Nobunaga membuat rahasia kecil di mana dia berencana untuk menjadikan ibu kota terbarunya dengan kastil termegah yang pernah dibangun. Kenshin menganggap hal ini sebagai isyarat mengancam. Respon Kenshin pada saat itu adalah meningkatkan ekspansinya. Dia merebut Etchu, dan pada tahun 1577 menyerang Noto, sebuah provinsi yang telah dijadikan Nobunaga sebagai investasi politik. Nobunaga menanggapi hal tersebut dengan memimpin pasukan pasukan besar ke Kaga dan menemui pasukan Kenshin di sungai Tedori. Kenshin membuktikan bahwa dirinya seorang musuh yang cerdik dan mengumpan Nobunaga untuk melakukan serangan frontal melintasi sungai Tedori pada malam hari. Dengan perjuangan yang keras, Oda pun dikalahkan dan dipaksa mundur ke selatan. Lalu Kenshin kembali ke Echigo dan mempersiapkan rencana untuk musim semi yang berikutnya, akan tetapi pada saat puncak kekuasaannya pada april 1578 dia meninggal. Kematian yang begitu kebetulan bagi Nobunaga, membuat rumor adanya pembunuhan begitu cepat tersebar. Pada kenyataannya, kematian Kenshin dikarenakan hal yang wajar. Kenshin diduga sakit pada saat persiapan operasi militer musim yang akan datang. Terlepas dari kematiannya, meninggalnya Kenshin memicu perang saudara di dalam klan Uesugi dan hal ini membuat kehidupan Nobunaga jauh lebih mudah. Selama empat tahun berikutnya pasukan Oda berada di bawah Shibata Katsuie, Maeda Toshiie, dan Sassa Narimasa akan merebut wilayah kekuasaan Uesugi, sampai mereka berada di perbatasan Echigo.

Klan Mori. Mereka merupakan salah satu klan yang paling mengesankan di Jepang. Pada awal yang sederhana oleh Mori Motonari, Mori telah berkembang untuk menguasai sebagian besar wilayah Chugoku, dan kini dia cemas saat menyaksikan ekspansi Nobunaga. Motonari pernah menjadi kritikus Nobunaga dan ketika dia meninggal pada tahun 1571, digantikan oleh Mori Terumoto yang melanjutkan oposisi Mori. Ishiyama Honganji terbukti sebagai tempat terbaik untuk melawan Nobunaga. Pada tahun 1576 Nobunaga mengalihkan pasukan angkatan laut Kuki Yoshitaka ke perairan settsu dan melanjutkan blokade laut pada klan Honganji, yang dibantu oleh Atagi dari pulau Awaji. Mori merespon hal tersebut dengan memobilisasi angkatan laut tingkat pertama mereka, yang diperintahkan oleh keluarga Murakami, orang-orang yang seperti klan Kuki telah memotong gigi mereka saat pembajakan. Berlayar ke timur, Mori menepis pasukan Atagi Nobuyasu dari Awaji dan melanjutkan mengalahkan kapal-kapal Kuki Yoshitaka pada pertempuran Kizugawaguchi ke-1. Jalur pasokan Honganji dibuka dan perbekalan disalurkan melalui transportasi laut. Hal ini membuat usaha Nobunaga memblokade daratan didebatkan. Menyadari bahwa Honganji harus diisolasi, jika dia ingin merebutnya, Nobunaga menugaskan Kuki untuk merancang kapal angkatan laut yang dapat mengimbangi keunggulan jumlah Mori. Yoshitaka dengan kewajiban penuh pergi kembali ke Shima dan pada tahun 1578 meluncurkan enam kapal perang besar dengan bersenjata berat yang menurut beberapa orang dilengkapi dengan pelat baja. Hal ini membentuk inti armada yang berlayar kembali ke Laut Pedalaman dan mengusir Mori pada pertempuran Kizugawaguchi ke-2. Pada tahun berikutnya Mori Terumoto melakukan upaya sia-sia lainnya, untuk mencabut blokade laut tetapi gagal. Pada saat itu Mori dihadapi dengan krisis mereka sendiri, para jendral Nobunaga pergi ke wilayah barat. Akechi Mitsuhide ditugaskan untuk menaklukan Tamba, dan kemudian maju di sepanjang pantai utara Chugoku. Toyotomi Hideyoshi memasuki Harima dan mulai melakukan sejumlah pengepungan, yang pada akhirnya membuka gerbang menuju ke pedalaman Mori.

 

No machine-readable author provided. AlexK~commonswiki assumed (based on copyright claims)., CC BY-SA 2.5, via Wikimedia Commons

Kematian Oda Nobunaga

Menurut “Topics in Japanese Cultural History”. Pada tahun 1582, api mengelilingi tempat tinggalnya dan membangunkan Oda pada tengah malam. Seorang jendral bawahan telah mengkhianati Oda. Melihat bahwa tidak ada jalan keluar dari api tersebut, Oda melakukan bunuh diri. Jendral lainnya, Toyotomi Hideyoshi, pada saat kematian Oda, sedang sibuk berperang di utara Jepang. Saat mendengar kejadian itu, Hideyoshi dengan dengan segera kembali ke Kyoto. Dengan cepat dia membunuh pengkhianat Oda, dan dapat mengambil posisi yang tinggi sebagai pembalas kematian tuannya, dengan mengambil alih komando organisasi Oda.

 

Referensi :

https://factsanddetails.com/

https://samurai-archives.com/

Comments

Popular posts from this blog

Rekomendasi Wisata Ke Tokyo

Hajimemashite!